Aspirasi hegemoni regional Australi dan pertahanan Indonesia.
Australi
Rahmad Nasution, kepala biro Antara cabang Canberra, menulis bahwa Australi memiliki ambisi untuk memperoleh supremasi militer regional, terlihat jelas dari usahanya mempengaruhi Amerika Serikat untuk menjual pesawat tercanggihnya, F-22 Raptor, yang, menurut hukum Amerika Serikat, status kepemilikannya dimonopoli Amerika Serikat.
Rahmad menyatakan bahwa kegigihan pemerintah Australi untuk membeli Raptor dan usaha mereka untuk memperbaharui Angkatan Lautnya merupakan bukti nyata bahwa Australi sedang mengantisipasi perlombaan senjata regional dengan Indonesia, Cina, dan India.
Miskin
Menteri Pertahanan, Juwono Sudarsono, sebaliknya menyatakan bahwa pengeluaran bersifat militer Indonesia yang hanya $4 milliar per tahunnya sangat kecil jika dibandingkan ke negara-negara tetangga. Ia menambahkan, bahkan negara kecil seperti Singapura mengeluarkan biaya 10 kali lebih besar dari Indonesia untuk sektor militer per tahunnya.
Tambahnya, karena alasan di atas, pendapat yang menyatakan bahwa Indonesia sedang, atau mencoba untuk, melibatkan diri dalam perlombaan senjata regional, misalnya dengan Australia, adalah hal yang tidak masuk akal.
Pembelian Senjata - Amerika Serikat
Frida Berrigan dalam “Foreign Policy in Focus” menyatakan bahwa:
“Jakarta menginginkan persenjataan. Yang banyak.”
Ia mengatakan bahwa belakangan ini Angkatan Udara Indonesia berusaha untuk mendapatkan Lockheed Martin F-16 (sebanyak 6 unit dengan harga $30 juta per unit) dan pesawat pengangkut C-130 Hercules dari Amerika Serikat.
Ia menambahkan, Amerika Serikat melakukan normalisasi hubungan militer dengan Indonesia pada tahun 2005, dan tidak tertarik lagi mengenai penggunaan senjata yang diperjualbelikan dengan Indonesia, seperti untuk menghadapi penduduk sipil di Papua atau di tempat lainnya. Ia juga mengatakan:
“Hal ini tidak bisa dicegah lagi.”
Juwono Sudarsono seperti setuju:
“Situasi internal kongres Amerika Serikat (terkait isu mengenai penjualan senjata ke Indonesia) telah membaik.”
Juwono menyatakan bahwa Amerika Serikat juga menawarkan bantuan militer sebesar $16 juta.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mutammimul Ula, memperingatkan agar Indonesia berhati-hati dalam membeli persenjataan dari Amerika Serikat, mengingat baru-baru ini embargo 10 tahun penjualan senjata ke Indonesia masih berlaku.
Pembelian Senjata - Rusia
Mutammimul Ula juga menyatakan bahwa, ditinjau dari sisi teknologi, F-16 merupakan barang lama. Sementara itu, Juwono menyatakan bahwa F-16 dibutuhkan karena adanya keterlambatan suplai pesawat Sukhoi dengan spesifikasi tercanggih Rusia, yang dipesan oleh Indonesia setelah kedatangan Presiden Rusia, Vladimir Putin, ke Jakarta pada September 2007.
Dalam kunjungan Putin, Rusia menyediakan pinjaman $1 juta untuk persenjataan. Pada bulan Desember tahun yang sama, Indonesia membeli peluru kendali jarak pendek dan menengah dari Russia, bom udara, dan persenjataan lainnya. Pembeliaan Sukhoi dan persenjataan pada tahun 2003 ini dinilai telah menghamburkan dana $192 juta (dibayar dengan CPO).
Frida Berrigan juga menyatakan bahwa Indonesia sekarang berharap lebih dari teman baik barunya, Rusia, termasuk 6 kapal selam, sistem pertahanan udara, helikopter, dan lainnya yang keseluruhannya dapat mencapai $3 milliar. Akibatnya, Washington mengkhawatirkan hilangnya Indonesia sebagai target pasar militernya.
Artikel ini diterjemahkan oleh Sherwin Tobing.
Tags: Amerika Serikat, Angkatan Laut, Aspirasi, Cina, Militer, Pemerintah, Pertahanan, Pesawat, Politik, Rusia, Senjata, Singapura