Islam Lunak

January 13th, 2008

Merambatnya Islam lunak di Indonesia menurut pemerhati mancanegara.

Dalam nada yang sama dengan liputan “Vespa Girls (Gadis-gadis Vespa)” di majalah Time 2007, kini majalah The Economist yang berpendapat kalau Indonesia adalah tempat dimana “‘Islam lunak’ sedang menjalar”. Laporan tersebut dimulai:

“Apakah Indonesia, negeri dengan masyarakat Muslim paling besar, sedang mengalami Islamisasi secara lambat-lambat?”

Beberapa contoh dari aliran Islam keras, seperti penghancuran terhadap mazhab Ahmadiyah, serbuan terhadap gereja-gereja, dan pemenggalan akan tiga murid perempuan yang beragam Kristen di Sulawesi, dapat dilihat sebagai pertanda akan keadaan Indonesia yang mengkhawatirkan.

Front Pembela Islam (FPI) sempat dituding sebagai dalang dari kebanyakan kerusuhan yang telah terjadi, begitu juga dengan Hizb-ut-Tahrir dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang terkenal getol mengeluarkan fatwa.

Sebuah penyelidikan di tahun 2006 yang dapat dilihat disini, sini, sini, atau bahkan disini, menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang Indonesia mendukung penyerangan teroris, seperti pengeboman di Bali 2002, jika tindakan tersebut dimaksudkan untuk “melindungi agama [Islam]“.

Setelah Soeharto jatuh, susunan pemerintahan yang tidak lagi memakai sistem pemusatan membolehkan para politikus untuk dipilih secara lokal. Propaganda mereka yang berbau Islam kemudian diikuti dengan dikeluarkannya hukum-hukum daerah yang bernada syariat setelah dilantik.

Namun Greg Fealy dari Australia yang terbilang sebagai pakar Islam di Indonesia berujar kalau hukum-hukum syariat biasanya tidak banyak berpengaruh, seperti di Tasikmalaya, dimana masyarakatnya masih banyak yang perilakunya tidak sesuai dengan Islam:

…”ada lebih banyak murid perempuan yang berjilbab [saat saya kembali mengunjungi Taskimalaya] tetapi perjudian, pelacuran dan kemabukkan masih sama seperti dulu.”

Bahkan di Aceh, ujar Sidney Jones, syariat sudah berkurang wewenangnya karena berlakunya pencambukkan umum yang tidak disukai (dan mungkin begitu juga dengan kasus seks di toilet), dan polisi agama (Wilayatul Hisbah) Aceh pun juga lebih lunak.

The Economist berpendapat bahwa secara keseluruhan keadaan sudah tidak terlalu buruk, dan hal ini dapat dilihat dari hasil pemilu terakhir, dimana partai-partai “sekuler” (seperti Golkar, PDI-P, dan PD) dengan mudah mengalahkan partai-partai “Islam” (seperti PKB, PPP, PAN, PKS, dan PBB) (walau begitu ada baiknya untuk melihat pendapat masyarakat muda akan partai Islam dan partai sekuler).

Sementara ekstremis Islam seperti Abu Bakar Baasyir menerima banyak perhatian, liputan tersebut menyatakan bahwa kaum Muslim liberal tengah berupaya untuk memutuskan hubungan antara ketaatan beragama dengan Islam politis. Usaha ini mengakibatkan timbulnya gerakan “Soft Islam”, atau “Islam Lunak”.

Zulkieflimansyah dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengatakan bahwa partainya telah meninggalkan segala retorika keagamaan yang berapi-api sebagai usaha untuk meningkat dari kalangan pendukungnya yang kebanyakan konservatif.

Akhirnya, sang penulis berkesimpulan:

“Indonesia, secara keseluruhan, telah bergerak menjauhi aliran Islam radikal.”

Beliau menyatakan bahwa perkembangan ini bukannya tidak bisa diubah, dan kelompok-kelompok seperti MUI dan FPI harus mendapatkan pengawasan yang terus-menerus, namun secara umum masa depan Indonesia nampak cerah. Baca cerita lengkapnya di The Economist.

Artikel ini diterjemahkan oleh Hannah Mulders dari versi bahasa Inggris - Soft Islamization.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Diskusi dan Komentar untuk “Islam Lunak”.

Hak Cipta Indonesia Matters 2006-08.