Ganti Gubernur sama saja. Apa yang beda !!
Menurut saya, kehidupan transportasi di Jakarta sedang dalam rekonstruksi massal yang membutuhkan waktu dan kesadaran semua elemen transportasi (penumpang, pihak pemerintah daerah setempat dan provinsi). Menurut saya, orang-orang di Jakarta ramah dan kalaupun ia preman masih bisa diajak bicara kok asalkan kita tidak meremehkan orang tersebut. Mungkin hanya orang-orang yang merasa kaum atas yang takut terhadap transportasi umum, padahal pada prinsipnya adalah kesamaan membuat orang lebih tenang jika bertemu orang lain walaupun preman. Mungkin ada perbedaan tapi jangan ditonjolkan. Above all, saya tetap mengharapkan perbaikan massal sistem transportasi umum di Jakarta, Indonesia.
Bahagia seperti apa bagi para penduduk Jakarta sebenarnya? Dan kesadaran sosial apa yang dimaksudkan di sini? Persentase-nya mungkin kecil sekali. kalaupun terjadi, bisa muncul main hakim sendiri. Sekedar informasi pengalaman pribadi, saya mengalami pelecehan di transportasi umum berkali-kali dan setiap kali saya memaki-maki pelakunya tidak ada satupun penumpang yang membantu saya. Adik saya ditodong dengan pisau dalam metro mini dan kondektur pun tidak berani membantu.
Saya mendukung artikel di the Jakarta Post karena memang itulah kenyataan yang terjadi di Jakarta. Ini bukan masalah kalangan ekonomi menengah atau atas atau lemah, tapi memang kondisi kota Jakarta sudah parah untuk ditinggali untuk kalangan ekonomi manapun! Waktu saya di Indonesia, saya sering ngobrol dengan supir taksi dan kondektur bis, dan mereka menyatakan betapa stress-nya kehidupan sehari-hari mereka menghadapi macetnya jalanan dan penumpang yang terlalu banyak belum lagi ancaman-ancaman setoran untuk kelompok preman tertentu. Jadi, bila ada perbaikan dalam sektor publik, yang mana dinikmati oleh mayoritas pendudukan ekonomi menengah ke bawah, maka imbasnya juga kepada kalangan ekonomi lemah. Pertama-tama kita harus mengakui bahwa kota Jakarta sudah tidak layak untuk ditinggali, tanpa pengakuan atau kesadaran atas hal tersebut, Jakarta tidak akan pernah ada perbaikan. Tidak akan pernah ada motivasi untuk memperbaiki kota Jakarta!
Jakarta sudah dikategorikan sebagai kota termahal di SEA setelah Singapura tapi fasilitas publik jauh dari memadai ditambah jumlah kriminal yang terus menyubur di setiap sudut kota.
Sudah saatnya untuk memindahkan ibukota ke kota lain.
Soalnya= tidak cukup duit.
Solusi= duit.
Mudah dong.
Copyright Indonesia Matters 2006-08