Agama Dayak

Dec 10th, 2007, in Id, by

Usaha-usaha agar kepercayaan lokal dapat diakui pemerintah.

Pada tanggal 6 Desember, perwakilan agama Kaharingan dari Kalimantan (Borneo) mengunjungi Departemen Agama di Jakarta dengan harapan agar kepercayaan mereka dapat diakui secara resmi oleh Negara.

Agung S. Ndorong, salah satu anggota dari perwakilan tersebut menyatakan;

“Kami mendaftarkan agama Kaharingan agar diakui oleh negara dan mendapatkan pelayanan yang sama.”

Agaknya yang beliau maksudkan adalah berlakunya pencatatan kelahiran, perkawinan dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk pemeluk Kaharingan agar sesuai dengan agama yang mereka pegang. Sementara ini, masyarakat Kaharingan dilihat sebagai orang-orang yang beragama Hindu oleh pemerintah, dan usaha-usaha sebelumnya untuk memberlakukan animisme sebagai golongan dalam KTP juga tidak membuahkan hasil.

Arton mengatakan bahwa pemerintah daerah di Kalimantan tidak pernah membatasi kegiatan pengikut Kaharingan, namun ia berharap kalau pemerintah nasional bisa pengakuan resminya.

Arton dan 14 rekan-rekannya didampingi oleh beberapa tokoh dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), yang salah satunya, Agung Sasongko, berujar:

“Dalam UUD 1945, penduduk diberi kebebasan untuk menganut agama dan kepercayaannya.”

Menteri Agama yang tidak bisa hadir berhubung sibuk akan digantikan oleh sang Sekertaris Jenderal yang telah setuju untuk menemui delegasi tersebut.

Artikel ini diterjemahkan oleh Hannah Mulders dari versi bahasa Inggris – Kaharingan.


52 Comments on “Agama Dayak”

  1. avatar toleran says:

    keyakinan atau pun agama adalah hak setiap warga negara! UUD’45 Pasal 29, apa susahnya mengakui agama kaharingan sebagai agama, kalo ada UU yang menbatasi undang-ndannya harus diubah/diganti berarti bertentangan dengan UUD’45, UUD ’45 saja bisa diamandemen apalagi undang2 yang dibawahnya harusnya lebih mudah dan konstitusional, ini tinggal kemauan elit kita saja, saya dukung agama kaharingan jadi agama resmi, walaupun hanya dianut oleh etnis dayak saja. yang penting jaga toleransi antar umat beragama, teruslah berjuang! hingga tercapai keinginan anda tetapi dengan jalan yang benar, santun dan elegan, SELAMAT BERJUANG!

  2. avatar shan says:

    sebenarnya yang mengangkat isu agama kaharingan itu pihak mana yah? apakah sungguh2 dari orang dayaknya atau ada pihak2 yang sengaja memuat isu begini karena punya maksud politik untuk ngompori orang Dayak yah??? terus terang dulu seseorang pernah bilang ke gue agama orang dayak itu “kaharingan” kira2 thn 2008 lalu, dan saya sendiri bertanya-tanya kq orang ini seperti ada maksud tertentu supaya g tidak membenarkan agama g yang sekarang???? , padahal dia sama sekali bukan “orang Dayak” tapi dia sekolah mengenai politik…g jadi curiga nihhhh….Orang dayak jangan mau dikompori yaa….Kita yang sudah mngenal Cinta Kasih selalulah mensyukuri kasih karunia Tuhan Jesus….Amin…

  3. avatar nasionalis religius says:

    agama kaharingan adalah keyakinan orang dayak, namun kalo orang dayak mau diajak ke agama lain haruslah dengan cara yang santun dan beradaB, jangan dengan politik pecah belah, seperti penjajah dulu dalam menyebarkan agama, sehingga kesan yang diterima di kemudian hari bukan agama penjajah, namun karena kesadaran! ingaT GOST, GLORY, GOSPEL, itu adalah semboyan penjajah kala itu, waspadalah, WASPADALAH!

  4. avatar Astrajingga says:

    Oh Shan, jadi kamu toh yang nyuruh-nyuruh orang Dayak masuk kristen? Kamu toh penjajahnya? Bukannya yang harus kita syukuri karunia Allah Subhanahuwata’ala? Bukannya yang harus kita syukuri karunia Sang Hyang Widhi?

    Bukannya yang harus kita syukuri karunia Tuhan/Dewa yang disembah dalam agama Kaharingan?

    Kamu Shan, kok gitu sih? Sukanya memonopoli karunia? Karunia Tuhan Jesus kan, misalnya, George Bush! Nah itu.

  5. avatar shan says:

    nah ini nih si Astrajingga, aq orang dayak asli aq bukan menghimbau orang yang bukan dayak kayak kamu astrajingga. ngapain loe yang panas sendiri apa maksudnya nih? Astrajingga, loe mau berkata apa juga ..terserah…….. “Orang Dayak itu Bukan orang Bodoh yahhhh…Dan kamu lihat Orang2 dayak beragama nasrani nggak ada yang menderita..semuanya ingin mengajak hidup damai dengan siapa saja dengan si budha si hindu si islam.. sama aj…nggak pernah orang dayak menjadi nasrani mau ngajak perang…..

    Jadi kalau kamu nggak ada kepentingan politik dalam hal ini, jangan ngompori dehhhh…dosa itu mahhh,

    Orang Dayak bukan orang yang bodohhh ….

    Sperti yang Anda lihat, kehidupan orang dayak selalu ingin mengajak orang hidup damai dengan agama2nya yang sekarang, jadi nggak perlulah dikompori dengan hal-hal yang membikin hidup jadi ruwet…

    Kalau masalah keyakinan, mau si kaharingan , mau si nasrani mau si hindu dan si Budha , dll..gak perlu bermegah2 keyakinan si ini si itu… juga Tuhan sudahhh tahuuu segalaanyaaaa…….
    Keyakinan ada hak indivudu setiap anak manusi , jadi gak perlu deh di politisi2 kayak gitu..biarlah Tuhan dan Individu itu sendiri yang tahuuuu……

    Ok…selalu :Keep Peace with every body” gunakan rasa cinta kasih maka senantiasa hidup akan damai……jangan membuat masalah yang tidak perlu di buattt…

  6. avatar Astrajingga says:

    Lho, kok sewot si Shan ini.

    Lha, walaupun saya bukan orang Dayak saya tahu orang Dayak tidak bodoh. Tetangga saya orang Dayak, dan saya pernah tinggal bersama orang Dayak di Kalimantan yang masih menganut agama Kaharingan cukup lama. Teman-teman saya yang beragama Kaharingan kelihatannya baik-baik saja dan damai-damai saja. Mereka juga tidak tertarik ‘pindah’ atau ‘masuk’ agama lain.

    Makanya ngapain disuruh-suruh hidup damai dalam agama kristen?

    Biarin aja hidup damai dalam agama kaharingan kalau emang mereka mau. Emang agama asli mereka itu bodoh dan mengajak perang?

    Kalau mereka mau menganut agama Islam–seperti orang Madura–ya juga boleh. Masuk kristen seperti Anda juga boleh. Kan dijamin UUD ’45. Kan itu hak azasi manusia.

    Kalau mau jadi atheist, ya silakan aja. Jadi atheist atau jadi Budha kan bisa juga tidak menderita dan hidup damai toh?

    Pertanyaan saya se-simpel ini: Kenapa untuk ‘tidak menderita’ dan ‘hidup berdamai’ harus masuk kristen? Memangnya agama kristen memegang hak monopoli atas hidup ‘tidak menderita’ dan ‘berdamai’?

    Apakah tidak menderitanya dan berdamainya manusia karena agama kristen?

    Apakah tidak menderitanya dan berdamainya orang Dayak karena agama kristen?

    Begitu maksudnya kalau kurang jelas.

    Mengenai penjajah dan George Bush, itu hanya sarkasme saja, menilik komen-komen SARA yang bermunculan, tak usah ditanggapi.

  7. avatar shan says:

    Oh Shan, jadi kamu toh yang nyuruh-nyuruh orang Dayak masuk kristen? Kamu toh penjajahnya? Bukannya yang harus kita syukuri karunia Allah Subhanahuwata’ala? Bukannya yang harus kita syukuri karunia Sang Hyang Widhi?

    Bukannya yang harus kita syukuri karunia Tuhan/Dewa yang disembah dalam agama Kaharingan?

    Kamu Shan, kok gitu sih? Sukanya memonopoli karunia? Karunia Tuhan Jesus kan, misalnya, George Bush! Nah itu.

    MAKSUD KAMU ASTRAJINGGA………BILANGIN G SEPERTI INI APA? NAH SEKARANG KAMU TAHU KAN HIDUP YANG BAGUS ITU BAGAIMANA??????????? MAKANYA JANGAN ASAL KOMEN SEPERTI INI!!!!!!!

  8. avatar Astrajingga says:

    Ape kate lo aje deh, Shan.

  9. Saya mau tanya nih, saya punya kepercayaan sendiri yaitu Agama Kesatuan Republik Indonesia. Saya buat itu karena alasan saya ingin Indonesia punya sendiri agama dan budaya. Jadi, isi agama ini hanya menceritakan sejarah Adam dan Evewa sampai menceritakan Muncullah Indonesia. Agama saya ini tidak membawa-bawa Nabi-nabi dari Timur Tengah, tapi saya hanya menceritakan khusus ttg sejarah Indonesia dan agama-agama sebelumnya yang dibuat oleh nenek moyang Indonesia seperti Kejawen dan sebagainya. Cuma, saya masih mau laporan kepada pemerintah untuk mengesahkan agama ini khusus orang Indonesia. Agama ini tidak ajarkan yang tidak-tidak lho.

  10. avatar Astrajingga says:

    Saya mau tanya nih,

    Pertanyaannya?

  11. avatar jecky says:

    Mengapa mesti bertengkar?
    Bukankah kepercayaan itu adalah hak setiap orang? Kalaupun agama suku kaharingan belum diakui pemerintah, boleh jadi karena ada pertimbangan-pertimbangan yang dipikirkan pemerintah bagi tertibnya masa depan sebuah bangsa. Coba pikirkan; setiap suku di Indonesia memiliki sistem kepercayaan, atau yang langka disebut sebagai agama suku. Seandainya, jika di negara ini terdapat 1000 suku, dan setiap suku memiliki unsur-unsur kepercayaan masing-masing, dan 1000 suku ini menuntut agar sistem keperayaannya diakui dan disahkan oleh pemerintah sebagai agama yang sah, tentu negara ini akan kacau. Udahlahhh…Jangankan seribu agama, lima agama saja di negara ini sudah kacau balau, tidak saling menghargai dan tidak saling menghormati. Menurut saya, alangkah baiknya suku dayak kaharingan tetap mempertahankan nilai-nilai religiusitasnya sebagai bentuk kebudayaan yang memiliki nilai tinggi dalam bangsa ini, sehingga kebudayaan itu tidak sampai hilang ditelan zaman. Sederhanakan?

  12. avatar jagau linga says:

    ..Saya memang bukan pemeluk Agama Hindu Kaharingan tapi kakek dan nenek moyang saya dulu adl penganut Kaharingan dan itu adl kebanggaan tersendiri buat saya sebagai orang dayak ,karna saya masih bisa melihat sandung2 (tempat tulang) mereka yg masih berdiri kokoh sampai sekarang dan kalau anda jalan2 ke kampung suku dayak ngaju pedalamn kal-teng anda bisa menjumpai sandung, sapundu, pantar dll yang usia2nya mungkin saja ratusan tahun sebagai bukti bahwa Kaharingan memang sudah ada sejak jaman dahulu dan merupakan keperjcayaan tradisional suku Dayak yg turun temurun dan kalau ada teman2 yg org DNA (Dayak Ngaju Asli) yang mengatakan tidak tau atau baru tahu Kaharingan sekarang sya kasih tau : Kaharingan artinya Tumbuh atau Hidup, Danum Kaharingan artinya Air Kehidupan , Ranying Hatala Langit artinya Tuhan Yang Maha Esa, Kitab Sucinya Kaharingan adalah Panaturan, tempat ibadahnya adalah Balai Basarah (Balai Kaharingan) jd Agama Kaharingan maksudnya adalah agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Hatala dalam bahasa Ngaju) yang hidup dan tumbuh atau dianut secara turun temurun dalam masyarakat Dayak (Religi Suku/kepercayaan tradisional suku dayak di kalimantan). sekarang dalam suku dayak sudah diperbolehkan mencantumkan KTP Agama Kaharingan, dan dalam upacara adat Kaharingan dalam perkawinan pun juga diakui dalam pencatatan, bagi teman2 yang mau tau banyak Agama, Adat istiadat dayak kapan2 ke kalteng jalan2 ke museum Balanga atau lihat2 acara Tiwah (dlm bahasa dayak ngaju ) disebut Wara ( dalam bahasa dayak manyan)dan orang dayak penganut Agama Kaharingan yg terkenal adl acara adat Tiwahnya dan saya sangat setuju sekali kalau agama Kaharingan diakui oleh Pemerintah.

  13. avatar daya says:

    saya sangat mendukung perjuangan masyarakat dayak.. khususnya usaha untuk memperjuangankan kepercayaan masyarakat lokal (asli) “kaharingan” agar dapat di akui sebagai agama resmi… go go go….

  14. avatar yudy triantara says:

    Jangan bertengkar,,urusan agama adalah urusan masing2 individu,,mau islam,,budha,, katolik,,apapun itu semua tergantung orangnya,,,urusan benar salahnya hanya TUHAN yg tau,,yang pasti kita selaku orang dayak jangan mau menjadi bahan mainan oleh oknum2 yang gak bertanggung jawab yang punya maksud2 tertentu…. HIDUP DAYAK

  15. avatar Zainal Bs says:

    Ketika masih kecil diusia 7 than pada tahun 60an saya pernah dengar kakek nenek menyinggung istilah KAHARINGAN sebagai nama suatu agama yang banyak dianut oleh orang2 Dayak. Adapun salah satu kegiatan ritual yang pernah saya saksikan antara lain upacara menyembuhkan orang sakit dengan memohon kepada roh-roh nenek moyang dengan menggunakan bahasa Dayak. Namun dalam pelajaran-pelajaran yang saya terima di sekolah, bahwa semula orang suku Dayak menganut kepercayaan ANIMISME yaitu kepercayaan kepada roh-roh nenek moyang, jadi bukan kepada Dewa-dewa sebagaimana yang saya tahu dalam agama Hindu. Nah sebagai salah satu wawasan tentang agama yang diakui oleh negara, antara lain :
    1. Kejelasan zat yang disembah dengan kekuasaan dan kekuatan hakiki melalui kajian-
    kajian maupun penelitian ilmiah tentang eksistensi agama tersebut.
    2. Ada kitab tertulis yang dapat dijadikan pengangan penganutnya dengan kelengkapan
    isinya yang mengatur cara-cara pelaksanaan ibadah, dan seterusnya.
    3. Ada seorang tokoh yang jelas sebagai panutan yang mempunyai visi & misi
    keselamatan umat dan alam dalam berbangsa & bernegara.
    4. Ada kejelasan data umat yang ada.

    Demikianlah sementara masukan saya, semoga dapat menjadi bahan kajian. Trims.

  16. avatar pangalok says:

    bicara soal agama ya memang susah. Susahnya adalah bahwa kita semua beda agama dan beda kepercayaan, namun yang unik adalah beda agama namun satu kepercayaan, nah apa itu? ya budaya.
    Jawaannya agama budaya.
    Kebetulan saya suku Dayak Bidayuh dan saya sudah beragama Katolik sejak lahir. Budaya Dayak ada dalam sanubari saya dan saya mencintainya karena tidak mungkin saya harus pensiun jadi orang Dayak dan pindah suku, sebab Tuhan sudah menaruh saya sebagai suku Dayak tentu ada maksudnya.
    Dalam agama saya yang Katolik itu, saya pun hidup dalam budaya Dayak yang juga mengimani Tuhan penguasa semesta alam.
    Yang saya tahu dalam budaya Dayak yang diajarkan adalah budi pekerti, kebaikan antara Penompa, Jubata, Duwata dsb dengan manusia. Manusia harus menghormati alam ciptaannya sehingga selangkah apapun orang Dayak harus minta ijin terlebih dahulu kepada Tuhan melalui alam, misalnya membuat ladang, mereka harus ijin dan memberikan persmebahan serta doa-doa dalam bahasa nyangahatn (lantunan syair doa dalam bahasa halus) meminta Tuhan memberikan berkat Nya.
    Yang perlu kita ketahui adalah media agama/kepercayaan yang kita gunakan dalam mengenal Tuhan ternyata tidak sama satu dengan lainnya, nah itu yang patut kita hargai.
    Yakinlah jika dia seorang Dayak yang beragama Islam maka dia memiliki kepercayaan yang sama dengan seorang Dayak yang beragama Kristen yakni sama-sama percaya bahwa ajaran agama kepercayaan dari agama adat budayanya itulah yang mengallir dalam sanubarinya dan itu pulalah yang membuat setiap orang menjadi satu dalam keluarga besar Dayak dimana ketika menyatu dalam Dayak tidak ada istilah Islam, Krosten, Hindu, Budha dan sebagainya semua mereka menyatu dalam kepercayaan yang sama yakni budaya Dayak yang mengajarkan banyak budi pekerti.
    Perlu diketahui pula bahwa sebelum Hindu muncul di Indonesia, orang Dayak telah lebih dahulu beragama asli yang kemudian bermutasi menjadi Hindu di Kutai sementara suku-suku lainnya di Indonesia belum beragama Hindu termasuk Jawa yang termasyur itu. Artinya penyebaran Hindu setelah di Kalimantan tentulah salah satunya ke Jawa melalui hubungan Kutai dengan wilayah-wilayah lainnya di nusantara.
    Sangat tidak masuk diakal jika Kutai sebuah kerajaan tertua di nusantara dengan masa jayanya yang berabad-abad tidak mempengaruhi wilayah lainnya di nusantara? Pasti Jawa, Sumatera, Sulawesi juga mendapat pengaruh besar dari Kutai kerajaan Hindu Dayak tertua di nusantara.
    Saya agak heran, kata “Dayak” dalam menyebutkan kerajaan Kutai hampir tidak terdengar, apa sengaja dihilangkan agar terkesan bahwa Kutai bukan kerajaan Dayak.
    Tugas kita semua untuk menyebarkan bahwa Kutai pertama adalah Kutai Dayak yang beragama Hindu. Artinya Dayak memiliki pengaruh besar di Indonesia dan menyumbangkan pemikiran serta sejarah yang tak ternilai harganya.
    Saya bangga menjadi orang Dayak sebab sejarah membuktikan bahwa Kerajaan tertua ada di Kalimantan dengan rajanya yang bernama Kudungga seorang Dayak asli Kalimantan yang telah beragama Hindu.
    Kejayaan Dayak tersebut kemudian direbut paksa oleh Kertanegara melalui siasat dan kemudian Kutai Dayak jatuh dan berubah nama menjadi Kutai Kertanegara. Walaupun kalah, sejarah telah melukiskan bahwa pemilik pertama kerajaan Kutai adalah orang Dayak asli. Ini yang saya sangat banggakan.
    Jadi mari kita mengangkat dan mencari tahu tentang diri kita sendiri. Sejarah kita telah banyak dimanipulasi Jakarta dan orang-orang yang tidak ingin mengungkapkan tentang Dayak si pemilik syah Kerajaan Kutai itu.
    Mereka sengaja menyembunyikannya dari kita agar anak cucu kita tidak mengetahui lagi sejarah sesungguhnya.
    Mari Dayak bersatulah, sebab engkau pernah memiliki Raja dan yang pertama di nusantara ini. Engkau telah mengajari Jawa dan Sumatera untuk mendirikan kerajaan-kerajaan baru yang kemudian menjadi kerajaan yang ternama.
    Pelajaran itu mereka dapatkan dari “DAYAK”.

  17. avatar dulyakin says:

    aku juga orang dayak dan sangat setuju dan mendukung agar agama Kaharingan diakui oleh pemerintah.
    Orang dayak sepengetahuan saya tidak pernah punya raja, dan tidak pernah untuk dikuasai oleh raja karena raja bagi orang dayak adalah keluarga dan kekerabatannya sendiri dalam sebuah adat rumah panjang atau rumah besar atau Llopo Betang.
    Kaharingan adalah dayak itu sendiri dimana kata Kaharingan adalah diambil dari bahasa Sangen yaitu Kekuatan ada dengan sendirinya sedangkan Dayak adalah dari bahasa melayu yg artinya adalah sama yaitu power.. dan agama Kaharingan telah diintervensi oleh agama lain pada tahun 1980an dimana dengan terbitnya surat dari dirjen bimmas agama hindu dan budha bahwa Kaharingan diKalimantan dijadikan sebagai binaan mereka, hal itulah yg terjadi hingga banyak sekarang ajaran Kaharingan yg ada begitu rancu dan tidak asli lagi oleh sebab intervensi itu , namun walau demikian untuk Dayak dipedalaman mereka masih memakai tatacara lama dalam hal beribadah dan adat istiadat begitu juga dengan sistem kekerabatannya yg selalu tolong menolong terhadap sesama suku dayak dan ini bisa kita lihat pada kejadian menyedihkan pada peristiwa perang suku didaerah Sampit Kalimantan Tengah dengan suku pendatang dimana pada saat itu orang dayak kota sampit sudah terdesak dan mereka memanggil dengan cara tradisi dayak untuk meminta pertolongan dan dengan cara cepat orang dayak dari pedalaman telah bertindak untuk menolong saudara2 mereka yg terdesak itu , hingga perang itu dapat dimenangkan ..
    memang sungguh tak masuk diakal bagaimana mereka bisa masuk padahal saat itu aparat keamanan berjaga sangat rapat , itulah orang dayak.. Selamat berjuang..

  18. avatar Hindu Bali says:

    Maaf mas2 mbak2 semua,agama Hindu itu ad banyak termasuk Hindu India,Hindu Bali dan Hindu Kaharingan..Hindu Bali sendiri asal muasalnya turun(diwahyukan) di Kutai Kalimantan Timur,Hyang Widhi mengutus brahmana suci dr India utk memberi bentuk kpd agama “baru” yg turun di Kutai ini,kemudian Hyang Widhi menyebut agama ini menjadi Hindu Kaharingan,Hindu Bali,dll..agama Hindu ini berbeda-beda tetapi tetap satu tubuh!!Kalo anda menelusuri sejarah munculnya nama agama “Hindu” kita pasti akan tertawa,nama “Hindu” sebenarnya berasal dr salah ejaan bangsa Persia thdp sebuah peradaban di lembah Sungai Sindhu dimana mereka akhirnya mengeja menjadi “Hindu”,padahal nama awal agama ini sebenarnya adl Sanatana Dharma (kebenaran abadi/kebenaran yg tdk akan berubah sepanjang masa)..dipilihnya Hindu untuk menaungi agama Kaharingan,agama Jawa,agama Bali,dll karena Hindu itu paling fleksibel,universal,dan dinamis..Hindu tidak membunuh budaya lokal,Hindu tidak memaksakan bahasa (harus bahasa Sansekerta,bhs.Hindi,dll malahan menghormati bahasa daerah),Hindu tidak memaksakan simbol dan bentuk,Jan Banggul (Rasul) dlm Hindu gak harus keturunan berdarah Arya,India,Yahudi,Arab,dll. orang Jawa pun diangkat menjadi Jan Banggul (Rasul) oleh Hyang Widhi misalnya Mpu Kuturan dan Dang Hyang Dwijendra yg berasal dr Jawa Timur..

    Kalo misalnya warga Dayak Kaharingan ingin lepas dr Hindu dan menjadi agama sendiri ya silahkan saja..yg penting jgn ad kekerasan,diselesaikan dgn nuansa kekeluargaan,tp perlu diketahui oleh masy. Dayak Kaharingan jika anda keluar dr Hindu maka anda membantah apa yg diberikan Tuhan..anda jgn berpikir bahwa Hindu itu identik dengan India,liat saja di Bali, Hindu Bali begitu unik karena Hindu tidak akan mematikan budaya,Hindu adl agama yg sangat menghormati leluhur..

  19. avatar jokri says:

    saya harap pemerintah meresmikan agama DAYAK sama seperti agama lainnya,dan juga saya harap pemerintah memberikan keadilan bagi rakyatnya.
    jangan pilih memilih OK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  20. avatar Asaukayad says:

    Aku adalah “DAYAK SEJATI”, bukan dayak kampung yg ada “JUDUL”,… AKU tercipta, bukan di ciptakan… Yg terlahir, bukan di lahirkan… Pada saat AKU terlahir, tidak ada satu agama pun yg AKU bawa & tidak ada satu kitab pun yg AKU bawa,… Segala rasa & nikmat yg AKU rasakan adalah karena rasa, kehendak, & DAYAKUASA AKU sendiri…. AKU tdk tau apa itu AGAMA…?! AKU tdk tau apa itu Kepercayaan & apa itu keyakinan… “AKU DAYAK SEJATI” yg tidak perlu pengakuan dan legitimasi dari orang2, kelompok, lembaga, organisasi, & NEGARA manapun…!!! Itulah makna sejati “DAYAKUASA”…

  21. avatar mutawalli muhammad says:

    apakah kalian yakin akan semua agama yang ada di negara ini adalah semuanya benar ?
    manakah agama yang benar ?
    semua agama berkata “agama saya yang paling benar!” , yakinkah ?
    jika anda-anda sekalian yakin akan agama anda sekalian, untuk apa anda sekalian terpengaruh omongan orang ? toh, setiap orang mempunyai hak untuk menganut agama yang dipercayanya.
    INGAT!!! SEMUA AGAMA MENGAJARKAN KASIH SAYANG……… TIDAK ADA KATA “MEMAKSAKAN KEHENDAK”.
    agama saja menghargai agama yang lain..kenpa kita enggak ?

  22. avatar Dicksno says:

    Pesan buat Saudara2x Dayak, kalau mengharapkan sesuatu dari pemerintahan era SBY ini rasanya cuma buang WAKTU.
    Lebih bagus kita me”mantab”kan diri kita dengan ajaran nenek moyang kita, yg SUDAH terbukti ribuan tahun telah membimbing kita sampai hari ini.
    Dengan modal ajaran nenek moyang kita, maka mata bathin kita BISA membimbing/memfilter AJARAN/AGAMA mana yang BAIK atau BURUK. Karena di ERA jaman EDAN sekarang ini BANYAK agama2x PALSU. PALSU maknanya
    1. Tidak mampu membawa kedamaian.
    2. Mengajarkan umatnya main kekerasan.
    3. MUNAFIK
    4. TAAT yg membabi buta (gak pake OTAK).

    dari Keempat poin diatas maka saya lebih BANGGA jika KAHARINGAN “saat ini” cukup disebut “Aliran Kepercayaan” alasannya karena keISTIMEWAANnya hanya ORANG2x Dayak yg PUNYA.
    BRAVO my Brother DAYAK!!!!

Comment on “Agama Dayak”.

RSS
RSS feed
Email

Copyright Indonesia Matters 2006-18
Privacy Policy | Terms of Use | Contact