Diatas Tumpukan Abu Sejarah

February 3rd, 2008

Budaya Muslim-Arab yang telah dimasukkan ke Indonesia akan menemui ajalnya.

Bila masyarakat asing menjumpai perilaku masyarakat Muslim konservatif di Indonesia, biasanya terjadi kecenderungan untuk mencerca dan mengolok-olok jika dihadapkan dengan tingkahnya yang kuno, paranoid, dan tidak masuk akal. Namun barangkali lebih baik untuk bergerak dari sikap seperti ini, yakni berusaha empati terhadap orang-orang tersebut, dan dengan begitu memperoleh pengetahuan kedalam dunia mereka, melihat kekhawatiran-kekhawatiran yang mereka miliki, dan mungkin mengerti kalau banyak dari kekhawatiran tersebut memang masuk akal, memang sangat mampu terjadi. Dari situ kita bisa meraih pencerahan akan kedudukan kaum Muslim garis keras di zaman sekarang. Dan kelakuan mereka yang aneh, juga kadang brutal, tidak akan jadi begitu sulit untuk dicerna.

Media massa tidak pernah-pernahnya jemu menyatakan bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim paling besar didunia, dengan 80% dari 220 juta warganya tergolong Muslim, walaupun lebih mungkin kalau setengahnya yang beribadah. Dengan kekuatan nominal yang begitu besar, mengapa orang-orang ini begitu tidak percaya diri, terancam, dan takut akan masa depan? Bagaimana bisa beberapa diantaranya sampai berani melaksanakan tindakan terorisme yang begitu menjijikkan sebagai pembelaan menyedihkan atas cara hidup dan sejarah mereka?

Sebagai contoh, budaya tradisional Jawa, bahasanya, adatnya, dan agamanya sudah mulai mengalami kepunahan sejarah tahap awal, dengan takdir ditelan gelombang globalisasi dan kekuasaan budaya Amerika. Ancaman akan kehancuran identitas inilah yang menyemangati ketakutan dan kebencian terhadap peradaban Barat dan Amerika dipikiran tokoh-tokoh Muslim konservatif di Indonesia.

Apakah kita setuju pada proses globalisasi tidaklah penting, hal itu sama seperti berusaha menghambat bencana alam, mustahil, dan segi inilah yang menguatkan ketakutan korban-korbannya. Yang kita saksikan sekarang adalah pembinasaan massal bahasa, budaya, suku, rumpun dan adat dalam skala yang luar biasa besarnya, dan dengan kecepatan yang tidak terkira.

Budaya tertentu, seperti budaya masyarakat Cina, memiliki kemampuan penyesuaian diri yang sangat terpuji dan bisa menerima pengaruh luar sambil memanfaatkannya. Peradaban Hindu India juga dapat menjadi sedikit dari budaya yang selamat dari pengaruh globalisasi. Namun peradaban Arab dan Islam yang dengan kemalangan telah membebani Indonesia, memang tidak semuanya, namun ada diantaranya (jumlahnya terus bertambah) yang ternyata amat terpojok dengan serangan globalisasi dan mengkhawatirkan kelangsungannya.

Dan dalam banyak cara, seorang Muslim yang taat dapat merasa asing di kampung halamannya sendiri. Dimana-mana berkeliaran perempuan berhak tinggi dan rok pendek, iklan-iklan mencolok berjualan ini dan itu dengan patokan Barat (rendah) dalam berdagang, dan jalan lebar untuk pornografi, zat yang paling ampuh untuk memusnahkan tradisi. Hukum negaranya bukanlah hukum Islam, mereka yang berharta bukan orang Islam tetapi orang-orang Cina pemakan babi, dan seterusnya.

Apa yang akan anda lakukan dalam keadaan seperti ini? Melawan balik, membuat pertahanan terakhir yang putus asa, lari kembali ke abad ketujuh, selenggarakan jihad. Atau bersikap sekedarnya, meninggalkan kekerasan dan mengeluarkan pernyataan tidak berarti tentang pengrusakan anak muda oleh Playboy, berusaha menang sedikit dalam keadaan yang nihil. Atau menyerah, menerima perubahan zaman, bunuh diri. Pilihan yang tersedia tidak menarik karena proses penghancuran budaya lama tidak membolehkan banyak ruang untuk bergerak.

Artikel ini diterjemahkan oleh Hannah Mulders dari versi bahasa Inggris - On the Scrapheap of History.

1 Komentar on “Diatas Tumpukan Abu Sejarah”

  1. avatar Cukurungan bilang:
    February 5th, 2008 at 4:09 pm

    Dengan kekuatan nominal yang begitu besar, mengapa orang-orang ini begitu tidak percaya diri, terancam, dan takut akan masa depan? Bagaimana bisa beberapa diantaranya sampai berani melaksanakan tindakan terorisme yang begitu menjijikkan sebagai pembelaan menyedihkan atas cara hidup dan sejarah mereka?

    Kami orang muslim tidak pernah takut menghadapi masa depan karena kami yakin masa depan kami sudah ditentukan Tuhan YME 50 ribu tahun sebelum Tuhan menciptakan Alam Semesta.

    Apa yang akan anda lakukan dalam keadaan seperti ini? Melawan balik, membuat pertahanan terakhir yang putus asa, lari kembali ke abad ketujuh, selenggarakan jihad. Atau bersikap sekedarnya, meninggalkan kekerasan dan mengeluarkan pernyataan tidak berarti tentang pengrusakan anak muda oleh Playboy, berusaha menang sedikit dalam keadaan yang nihil. Atau menyerah, menerima perubahan zaman, bunuh diri. Pilihan yang tersedia tidak menarik karena proses penghancuran budaya lama tidak membolehkan banyak ruang untuk bergerak.

    Saat ini kami umat Islam Indonesia sangat menikmati kehidupan kami didunia ini terutama Saya bisa melihat perempuan cantik setengah telanjang dimana-mana tanpa perlu merasa berdosa dan kami tidak perlu melawan siapapun karena tidak seorang pun didunia ini yg yg berani menantang dan melawan kami.
    So tell me why kami harus bunuh diri.

    regards,
    Infidels entertainer

RSS
RSS feed
Email

Copyright Indonesia Matters 2006-09